Rabu, 08 April 2015

MEMBANGUN BANGSA INDONESIA YANG
BERKARAKTER
Oleh : Abdurahim D. Balen, SH

Rasanya sudah sangat sering kita dengarkan ketidakpuasan masyarakat terhadap kinerja pendidikan nasional. Kata - kata ekstrem pun sering terluapkan; konon pendidikan nasional Indonesia telah gagal menjalankan misinya untuk membentukmanusia - manusia yang cakap dan berkepribadian serta membangun bangsa yang berkarakter. Konon pendidikan hanya bisa menghasilkan koruptor, kolutor,provokator, dan manusia - manusia tak berbudi lainnya. Ekstremitas tersebut tentu tidak sepenuhnya benar meskipun ada bagian yang tidak salah. Adalah benar bahwa sebagian koruptor, kolutor, provokator serta manusia - manusia yang tidak berbudi lainnya adalah orang - orang yang
berpendidikan, bahkan sebagian diantaranya berpendidikan tinggi; meskipun demikian hal itu tidak berarti bahwa seluruh hasil pendidikan kita, khususnya pendidikan tinggi, adalah buruk.
Di samping predikat negatif tersebut senyatanya pendidikan nasional kita pun telah banyak menghasilkan para kreator, inovator, dinamisator, serta manusia - manusia cakap dan berbudi pekerti luhur lainnya. Di negara kita ini masih banyak orang yang cakap, pintar, jujur dan berlaku sebagai manusia dalam arti yang sebenarnya. Dan sebagian dari yang banyak ini merupakan hasil daripada pendidikan kita.
Tetapi lepas daripada itu semua, kiranya tidaklah salah atas adanya anggapan bahwasanya misi pendidikan nasional kita belum sepenuhnya berhasil membangun bangsa yang berkarakter. Bahkan
lebih daripada itu pendidikan nasional kita cenderung gagal membangun bangsa Indonesia yang berkarakter.Bangsa yang Berkarakter Sekarang ini hampir lima tahun bangsa Indonesia mengalami keterpurukan di banyak bidang kehidupan sekaligus. Dimulai dari keterpurukan ekonomi kemudian
merambat ke bidang yang lainnya, hukum, sosial, budaya, pendidikan, dan sebagainya. Keterpurukan yang terjadi sekarang ini sudah sangat kompleks karena apa yang sedang berlangsung di dalam satu sisi segera disambut dengan sisi kehidupan yang lain; apa yang terjadi di satu sudut segera diikuti oleh sudut  kehidupan yang lain. Reformasi yang digelorakan di negeri ini ternyata tidak atau belum sanggup  mengatasi keterpurukan tersebut. Di dalam berbagai dimensi, reformasi terkesan justru menambah kompleksnya keterpurukan bangsa ini; dan di berbagai faset,reformasi terlihat tak lagi membuat simpel tetapi justru menambah rumit problematika nasional yang dihadapi bangsa ini.
Sudah barang tentu reformasi yang sedang dijalankan oleh bangsa ini mengandung banyak aspek yang positif tetapi ada ekses yang terkadang menutup cita - cita reformasi itu sendiri, bahkan tak jarang terkesan akan membelokkan arah reformasi. Munculnya barbarisme dan vandalisme baik secara fisik maupun nonfisik, adanya model - model KKN baru, seringnya terjadi pembenaran politik
dalam berbagai permasalahan yang jauh dari kebenaran universal, hilang nya keteladanan para pemimpin, larutnya semangat berkorban bagi bangsa dan negara, menjalarnya penyakit sosial yang makin kronis, dsb, adalah realitas yang dapat menciutkan hati warga negara yang mendambakan kebersamaan dan kedamaian.Bangsa Indonesia sepertinya telah kehilangan karakter yang telah dibangun bertahun - tahun bahkan berabad - abad. Keramahan, tenggang rasa, kesopanan, dsb,
yang merupakan karakter bangsa ini seolah - olah hilang begitu saja. Sekarang ini kita sadar kembali tentang perlunya karakter baru bangsa Indonesia untuk membangun negeri ini.Tim Kerja Filosofi
Pendidikan yang dibentuk oleh Depdiknas, Bappenas dan World Bank (1999) pernah merumuskan karakter baru bangsa Indonesia ke depan yang terdiri lima indikator masyarakat madani Indonesia; yaitu masyarakat yang demokratis dalam perikehidupannya (democratization), masyarakat yang mampu menegakkan keadilan dan hukum (law enforcement), masyarakat yang setiap anggotanya memiliki kebanggaan diri baik secara individual maupun kolektif (human dignity), masyarakat yang toleran sehingga dapat menerima dan memberi di dalam perbedaan budaya (multicultural), serta masyarakat yang mendasarkan diri pada kehidupan beragama dalam pergaulannya (religionism)
Sementara itu Tim Kebudayaan yang dibentuk oleh Depdiknas (2000) juga pernah merumuskan karakter baru bangsa Indonesia ke depan yang terdiri delapan indikator masyarakat madani Indonesia; yaitu masyarakat yang adil dan sejahtera, masyarakat yang demokratis dan toleran, masyarakat yang tertib dan teratur, masyarakat yang mandiri dan bertanggung jawab, masyarakat yang setara dan "bersama", masyarakat yang memiliki integritas dan tahan budaya, masyarakat yang
religius dan berbudi pekerti, serta masyarakat yang dinamis dan berorientasi ke depan.
Dengan mengambil pengalaman dari bangsa kita sendiri maupun bangsa - bangsa lain pada umumnya untuk membangun karakter bangsa diperlukan waktu yang sangat lama. "Character is an never ending process" . Itu berarti bahwa proses pembentukan karakter suatu bangsa tidak saja memerlukan waktu yang lama tetapi bahkan memerlukan waktu yang tidak ada henti. Pembentukan karakter tak pernah selesai karena karakter itu sendiri berproses menurut perkembangan dan dinamika bangsa.

Visi dan Komitmen
Panjangnya kesenjangan antara karakter bangsa yang dicita - citakan dengan realitas yang ada sekarang ada yang beranggapan disebabkan karena kegagalan pendidikan nasional kita.
Secara empirik di dalam banyak kasus pendidikan merupakan variabel independen yang sangat menentukan perilaku variabel pasangannya. Dalam kasus membangun bangsa yang berkarakter pun begitu pula halnya; artinya keberhasilan atau kegagalan pendidikan sangat menentukan keberhasilan atau kegagalan pembangunan bangsa yang berkarakter. Di dalam tata hubungan yang positif, semakin baik kinerja pendidikan semakin berhasil pembangunan bangsa yang berkarakter; sebaliknya, semakin buruk kinerja pendidikan semakin gagal pembangunan bangsa yang berkarakter.
Panjangnya kesenjangan antara karakter bangsa yang dicita - citakan dengan realitas yang ada sekarang ini disebabkan karena kegagalan pendidikan nasional kita. Gagalnya pembangunan bangsa yang berkarakter disebabkan buruknya kinerja pendidikan nasional selama ini.Harus diakui bahwa kinerja pendidikan nasional sekarang ini sangat buruk dan memprihatinkan; ini dapat dilihat dari hasil - hasil pelaksanaan pendidikan yang masih jauh dari harapan. Rendahnya indeks pembangunan manusia, rendahnya daya saing, kurang berbudayanya perilaku politik para elite, merebaknya praktek korupsi di kalangan pemimpin, arogansinya sekelompok masyarakat yang suka memaksakan
kehendak, dsb, adalah hasil pelaksanaan pendidikan nasional yang belum memuaskan dalam jangka panjang.
Demi melihat keterpurukan dan keprihatinan seperti tersebut di atas maka diperlukan strategi perbaikan pendidikan agar supaya kita sanggup membangun bangsa Indonesia yang berkarakter. Visi dan komitmen merupakan langkah awal dari segenap strategi untuk membangun bangsa yang berkarakter.Sekarang ini diperlukan visi dan komitmen kepemimpinan nasional untuk membangun bangsa. Ironis memang, negara Indonesia yang kaya dengan sumber alam baik yang sudah termanfaatkan maupun yang belum termanfaatkan tidak mampu mebangun sebuah kualitas pendidikan yang baik Bagi Bangsa ini.
 Para petinggi pemerintah kita ternyata cenderung disibukkan oleh masalah - masalah instan serta terlena pada persoalan - persoalan yang berjangka pendek sehingga kurang mampu memecahkan permasalahan bangsa di dalam jangka panjang ke depan. Sampai sekarang kita tidak dapat menggambarkan bagaimana profil  bangsa Indonesia seperempat abad ke depan dikarenakan para petinggi pemerintah  memang tidak memiliki desain perencanaan yang matang. Visi dan komitmen itulah kata kunci untuk membangun dapat bangsa yang berkarakter !!!*****



Sample Text

Diberdayakan oleh Blogger.

Video

Popular Posts

Our Facebook Page